I N F O
Persoalan Asmara Manusia yang Jujur dan Bertanggung Jawab
JAKARTA – Maaf kalau pendapat ini salah, tetapi boleh dong memuji film Ungu Violet karya sutradara Rako Prijanto sebagai drama percintaan yang bisa berharap mengundang antrean panjang penonton setelah Arisan! Film ini berkisah tentang remaja dewasa.
Tema yang mungkin terbilang sulit karena area kehidupan komunitasnya belum jelas di mana berposisi. Biasanya karya sinema kita masih dikuasai persoalan remaja nakal dan santun, persahabatan, kisah percintaan datar, konflik lemah, atau cengeng tanpa perjuangan keringat dan usaha maksimal.
Berbeda Ungu Violet, yang siap ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 Juni 2005. Film ini membawa jawaban ihwal kekuatan ide cerita, skenario, musik, penyutradaraan dan segi artistiknya. Juga bayangkan soal kesuraman jiwa karakter Lando (Rizky Hanggono) yang berpenyakit leukemia. Sebaliknya, Lando dibentuk melalui sikap lelaki yang keras, bertanggung jawab, dan perjuangan hidupnya menarik buat diikuti.
Sejak mula, tokoh jantan (berwajah negeri sendiri) itu memberi masukan indah tentang ”lelaki kuat” yang tidak mudah menyerah. Memang, profesi yang disandangnya selaku fotografer tergolong sudah klise bagi suatu kasting. Apalagi persoalannya tetap kembali ke perihal idealisme. Lando berprofesi jurnalis foto yang gemar bergagasan artistik, dan bisa berlaku berani untuk gejolak pembawaannya itu.
Sebagai pendatang baru, Rizky benar-benar tangguh memainkan perannya. Padahal peran baginya itu tergolong sulit. Ini jadi mengingatkan keberhasilan Tora Sudiro sebagai Nino di Arisan! Dengan catatan Tora bukan benar-benar pendatang baru, karena dia lebih dulu bermain di Tragedy (1999).
Begitulah, Ungu Violet mulai mengisahkan perjalanan si fotografer Lando yang naik bus ke kantor, tanpa karya foto. Tugas kerjanya baru berlangsung di atas bus kota dengan mengabadikan tindak pencopet yang tengah beraksi. Ini ide perlawanan yang diciptakan bagi tokoh muda Lando. Mungkin tidak patriotik sama sekali, akan tetapi justru berkesan baru dan berani banget. Tanpa perasaan takut dia menghadapi si pencopet yang ternyata berpisau. Sikap berani yang sulit diterka, apakah dia rela mati, atau memancing perhatian publik di atas bus yang kemudian marah dan mengeroyok si pencopet?!
Jangan heran kalau Rako (sutradara) termasuk membanggakan karya filmnya ini dari sisi muatan yang sulit diterka. Begitu pun ide pertemuan ajaib yang kemudian membangun gelora percintaan antara Lando dan Kalin (Dian Sastrowardoyo). Bisa dibilang, pertemuan tanpa sengaja karena dalam adegan memotret pencopet di dalam bus, ”ikut tertangkap” wajah keren Kalin.
Hal ”kebetulan” lainnya, bos Lando sedang menuntut pencarian terhadap model-model baru bagi media penerbitannya. Gagasan lain dalam pencarian Lando terhadap sosok Kalin, juga bermuatan keinginan meraih peristiwa baru. Maka kisah pertemuan hingga perkenalan antara dua orang muda itu, dikemas apa adanya. Namun bersuasana sekarang, penuh harapan sekaligus menggembirakan.
Ada Penilaian Lain
Kalau terbilang karakter (perjuangan) Kalin mirip ide telenovela atau drama percintaan Korea dan semacamnya, mungkin bagi Ungu Violet ada penilaian lain yang bermomen ultrarealistik. Kalin hanyalah seorang gadis biasa pelayan tiket busway. Dia berlatar belakang kehilangan kedua orangtuanya yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas, dan terpaksa menetap bersama neneknya (Rima Melati) sambil mengais nafkah di Jakarta.
Kisah asmara antara Lando dan Kalin meski mungkin mengada-ada, akan tetapi bisa terjadi di alam nyata karena kebersahajaannya. Alur cerita berjalan sesuai karakter yang digenggam oleh Lando dan Kalin. Bisa dimengerti semangat tanggung jawab Lando terhadap atasannya yang menantangnya melakukan pencarian model baru. Di balik itu dia terdorong oleh kekaguman rasa pesona penampilan Kalin yang elegan, sederhana dan hangat.
Lagi pula Lando menyimpan riwayat penyakit yang membuat sifatnya jadi lumayan dingin, kaku dan keras kepala. Ini malah jadi paduan menarik dengan sifat lugu Kalin yang terbuka, tanpa curiga namun penuh kepedulian.
Sedapnya skenario Jujur Prananto mahir pula memainkan emosi penonton yang keburu terkena jalinan menarik cinta asmara Lando dan Kalin. Maka kalau ada yang menangis ketika Lando terpaksa mengorbankan perasaannya secara tulus, tentu saja lumrah bagi hati manusia siapa pun dia.
Coba bayangkan betapa sakitnya wanita seperti Kalin di saat alunan melodi asmaranya memuncak namun harus menghadapi ”penolakan” Lando. Sebagai manusia biasa, Kalin dalam posisi terdominasi rasa cinta seperti itu, tentu sulit untuk mengerti persoalan rumit apa saja yang dimiliki Lando.
Penguasaan karakter pada dua peran utama Rizky dan Dian sampai tahapan The End menambah kekuatan cerita Ungu Violet. ”Film harus memiliki rasa, bukan sekadar story telling. Apalagi Dian bisa memilah dua keadaan berbeda sebagai penjual tiket (busway) dan kemudian berhasil jadi supermodel,” seperti dikemukakan Rako
Nah satu lagi nich film remaja yang nongol . . . film ini OST lagunya dari band yang ternama di indonesia yaitu PADI-band jebolan SURABAYA dengan Menanti Sebuah Jawaban, kalian² semua gimana nich . . . dah pada nonton belom . . . ??? truss gimana jalan ceritanya . . . Bagus, Jelek, atau standart ??? truss romantis gak sich ?? silakan ya ksh comment-na