www.anitablog.tk

01.08.05

CINTA VS SAYANK

Filed under: Opini

Ehmzzzzzzzzz . . . menurut lo sayang ame cinta beda nga sich . . . trus trus daleman mana sayang ape cinta . . . ???!!!!

BENER KAGAK SECH . . . BAHWA . . .

cinta dan sayang adalah dua hal yg sama namun berbeda . . .
cinta itu pasti sayang, dan sayang belum tentu cinta. cinta adalah ekses dari rasa sayang, pertama, lo mengenal, lalu menyayangi, kemudian mencintainya.

TRUSSSSSSS . . .

Pada tahap sayang, lo akan merasa ada yg kurang jika tidak bertemu dengan yang lo sayangi, namun pada tahap cinta, lo akan merasa menjadi satu dengan yang elo cintai . . .

BUT . . .

cinta itu egois . . . ingin memiliki . . . ??!!! iya gak sechhhhhh ???!!!!

TRUSSS . . . SETUJU GAK SECH . . .

jika cinta itu pasti lebih dalam tapi tidak abadi, truss sayang itu abadi dan lebih tulus . . . truss kalo dah cinta mang lebih dalem tapi dah mula timbul dech rasa posesif, rasa cemburu, rasa pengen diperhatiin terus . . . iya nggak . . . ???!!!

NAH . . . NURUT LOE . . .

cinta sama sayang pa punya status ???!!! nurut gue sech terkadang . . .
cinta bisa jadi sudah ada statusnya . . . lebih berkomitmen . . . but klo sayang . . . ya sekedarnya . . . sebisanya . . . seluangnya waktu buat sayang . . .

AND THEN . . .

klo sayang itu kesan nya lebih umum n dalem banget dew . . . iya nggak sich ???!!!

ANYWAY . . .

klo cinta itu kesan nya lebih spesifik . . . masa iya sich . . . ??!! truss sebenarnya sih cinta ma sayank engga jauh beda . . . apa iya ??!!!cinta itu bisa ilang . . . sedangkan rasa sayank itu akan terus ada gitu lohh alias engga mudah sirna atau pudar . . . ???!!! ahh masa iya sech ???!!!!

NAH ELO ELO SEMUA MENDING MILIH YANG MANA SECH . . . ???!!!

CINTA VS SAYANK . . . ???!!!

22.07.05

SINOPSIS

Filed under: Opini

I N F O

Persoalan Asmara Manusia yang Jujur dan Bertanggung Jawab

http://www.sinarharapan.co.id/images/0506/17/hib01.jpgJAKARTA – Maaf kalau pendapat ini salah, tetapi boleh dong memuji film Ungu Violet karya sutradara Rako Prijanto sebagai drama percintaan yang bisa berharap mengundang antrean panjang penonton setelah Arisan! Film ini berkisah tentang remaja dewasa.

Tema yang mungkin terbilang sulit karena area kehidupan komunitasnya belum jelas di mana berposisi. Biasanya karya sinema kita masih dikuasai persoalan remaja nakal dan santun, persahabatan, kisah percintaan datar, konflik lemah, atau cengeng tanpa perjuangan keringat dan usaha maksimal.
Berbeda Ungu Violet, yang siap ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 Juni 2005. Film ini membawa jawaban ihwal kekuatan ide cerita, skenario, musik, penyutradaraan dan segi artistiknya. Juga bayangkan soal kesuraman jiwa karakter Lando (Rizky Hanggono) yang berpenyakit leukemia. Sebaliknya, Lando dibentuk melalui sikap lelaki yang keras, bertanggung jawab, dan perjuangan hidupnya menarik buat diikuti.
Sejak mula, tokoh jantan (berwajah negeri sendiri) itu memberi masukan indah tentang ”lelaki kuat” yang tidak mudah menyerah. Memang, profesi yang disandangnya selaku fotografer tergolong sudah klise bagi suatu kasting. Apalagi persoalannya tetap kembali ke perihal idealisme. Lando berprofesi jurnalis foto yang gemar bergagasan artistik, dan bisa berlaku berani untuk gejolak pembawaannya itu.
Sebagai pendatang baru, Rizky benar-benar tangguh memainkan perannya. Padahal peran baginya itu tergolong sulit. Ini jadi mengingatkan keberhasilan Tora Sudiro sebagai Nino di Arisan! Dengan catatan Tora bukan benar-benar pendatang baru, karena dia lebih dulu bermain di Tragedy (1999).
Begitulah, Ungu Violet mulai mengisahkan perjalanan si fotografer Lando yang naik bus ke kantor, tanpa karya foto. Tugas kerjanya baru berlangsung di atas bus kota dengan mengabadikan tindak pencopet yang tengah beraksi. Ini ide perlawanan yang diciptakan bagi tokoh muda Lando. Mungkin tidak patriotik sama sekali, akan tetapi justru berkesan baru dan berani banget. Tanpa perasaan takut dia menghadapi si pencopet yang ternyata berpisau. Sikap berani yang sulit diterka, apakah dia rela mati, atau memancing perhatian publik di atas bus yang kemudian marah dan mengeroyok si pencopet?!
Jangan heran kalau Rako (sutradara) termasuk membanggakan karya filmnya ini dari sisi muatan yang sulit diterka. Begitu pun ide pertemuan ajaib yang kemudian membangun gelora percintaan antara Lando dan Kalin (Dian Sastrowardoyo). Bisa dibilang, pertemuan tanpa sengaja karena dalam adegan memotret pencopet di dalam bus, ”ikut tertangkap” wajah keren Kalin.
Hal ”kebetulan” lainnya, bos Lando sedang menuntut pencarian terhadap model-model baru bagi media penerbitannya. Gagasan lain dalam pencarian Lando terhadap sosok Kalin, juga bermuatan keinginan meraih peristiwa baru. Maka kisah pertemuan hingga perkenalan antara dua orang muda itu, dikemas apa adanya. Namun bersuasana sekarang, penuh harapan sekaligus menggembirakan.

Ada Penilaian Lain
Kalau terbilang karakter (perjuangan) Kalin mirip ide telenovela atau drama percintaan Korea dan semacamnya, mungkin bagi Ungu Violet ada penilaian lain yang bermomen ultrarealistik. Kalin hanyalah seorang gadis biasa pelayan tiket busway. Dia berlatar belakang kehilangan kedua orangtuanya yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas, dan terpaksa menetap bersama neneknya (Rima Melati) sambil mengais nafkah di Jakarta.
Kisah asmara antara Lando dan Kalin meski mungkin mengada-ada, akan tetapi bisa terjadi di alam nyata karena kebersahajaannya. Alur cerita berjalan sesuai karakter yang digenggam oleh Lando dan Kalin. Bisa dimengerti semangat tanggung jawab Lando terhadap atasannya yang menantangnya melakukan pencarian model baru. Di balik itu dia terdorong oleh kekaguman rasa pesona penampilan Kalin yang elegan, sederhana dan hangat.
Lagi pula Lando menyimpan riwayat penyakit yang membuat sifatnya jadi lumayan dingin, kaku dan keras kepala. Ini malah jadi paduan menarik dengan sifat lugu Kalin yang terbuka, tanpa curiga namun penuh kepedulian.
Sedapnya skenario Jujur Prananto mahir pula memainkan emosi penonton yang keburu terkena jalinan menarik cinta asmara Lando dan Kalin. Maka kalau ada yang menangis ketika Lando terpaksa mengorbankan perasaannya secara tulus, tentu saja lumrah bagi hati manusia siapa pun dia.
Coba bayangkan betapa sakitnya wanita seperti Kalin di saat alunan melodi asmaranya memuncak namun harus menghadapi ”penolakan” Lando. Sebagai manusia biasa, Kalin dalam posisi terdominasi rasa cinta seperti itu, tentu sulit untuk mengerti persoalan rumit apa saja yang dimiliki Lando.
Penguasaan karakter pada dua peran utama Rizky dan Dian sampai tahapan The End menambah kekuatan cerita Ungu Violet. ”Film harus memiliki rasa, bukan sekadar story telling. Apalagi Dian bisa memilah dua keadaan berbeda sebagai penjual tiket (busway) dan kemudian berhasil jadi supermodel,” seperti dikemukakan Rako

Nah satu lagi nich film remaja yang nongol . . . film ini OST lagunya dari band yang ternama di indonesia yaitu PADI-band jebolan SURABAYA dengan Menanti Sebuah Jawaban, kalian² semua gimana nich . . . dah pada nonton belom . . . ??? truss gimana jalan ceritanya . . . Bagus, Jelek, atau standart ??? truss romantis gak sich ?? silakan ya ksh comment-na :)

SINOPSIS

Filed under: Opini

I N F O

http://www.sinarharapan.co.id/images/0506/24/hib01.jpgCERITA CINTA MURID SMP - Film layar lebar produksi Rapi Film, Inikah Rasanya Cinta berbintang utama Alyssa Soebandono sebagai Nadya, Gilbert Marciano (Jason) dan Fedi Nuril (Ryan).

JAKARTA – Segar dan lucunya kisah cinta remaja kembali tereksploitasi melalui judul film Inikah Rasanya Cinta?, yang mulai beredar di bioskop nasional sejak Kamis (30/6) mendatang. Sejauh mata memandang, tiada hal baru yang bisa diungkap dari film produksi Rapi Film ini. Hanya persoalan remaja SMP yang bingung dengan perasaan cinta pada sahabatnya sendiri.

Lagi pula film ini kesannya memperbesar problem ABG yang belum pantas berkisah asmara. Bukankah lebih bagus (dengan akal sehat) mencoba membuka jalan lain kepada ”remaja polos” agar berprestasi ilmiah atau ”menggebuk” koruptor, ketimbang ”mengajari” mereka bercinta asmara. Nyari duit sendiri aja belum becus, mau berpacaran pula?!
SH percaya ada orang Indonesia yang mampu menulis skenario berkualitas dan mendidik remaja secara terbidik. Dipastikan sutradara Ai Manaf yang potensial itu merasa lebih suka berbuat kompetitif dengan model garapan Catatan Akhir Sekolah atau turun sedikit ke konsep remaja bocah di atas gagasan Petualangan Sherina, dibanding memilih sikap komersial banget.
Terasa sayang, saat mendengar kebanggaan produser Gope Samtani terhadap Rapi Film yang sudah berkiprah di perfiman nasional sejak 1971 dengan debut film Airmata Kekasih. Bahkan dengan Inikah Rasanya Cinta? telah menjumlah produksi sebanyak 98 judul. Namun kini ternyata hanya menghasilkan karya problem nanggung, ihwal kalangan remaja yang terpicu cinta asmara pradini.
Apabila pendalaman kisahnya menggarap latar konflik kejiwaan di balik problem keluarga Jason (Gilbert Marciano) dan Nadya (Alyssa Soebandono), mungkin bisa jadi tontonan yang mengundang diskusi menarik. Sebutlah Jason atau Nadya bertolak dari keluarga berkonflik perceraian, atau salah seorang berdiri di tengah keluarga yang berorangtua karakter keras dan mudah meninju. Sehingga keduanya tercekam kerinduan terhadap kasih sayang yang melimpah.
Ataupun lingkungannya di tengah kalangan orang dewasa yang bersikap bebas dan sangat terbuka. Yang membuat mereka mudah memasuki pengalaman bercinta asmara.
Geliat Konflik
Perfeksinya tidak sepadan dengan geliat konflik film remaja bocah, Melody (Mark Lester, Jack Wild) di masa lalu (1971) yang mengajak kita menilai karakter dua tokohnya berangkat dari sikap dua bocah lelaki yang penasaran dengan pendewasaan diri. Serta sebaliknya mengikuti sifat umum remaja yang serba mau tahu, tanpa pertimbangan layak ataukah tidak.
Dengan sifat penanganan yang hanya menyentuh persoalan anak muda di permukaannya saja, bisa dibilang Inikah Rasanya Cinta? masih di bawah kualitas film Fantasi yang dimainkan sejumlah alumnus Akademi Fantasi Indosiar yang lebih berterus terang mengangkat persoalan remaja berdasarkan realitas umum.
Berpacaran untuk sekadar gengsi pergaulan, memanfaatkan popularitas diri untuk menguasai pasangannya, mencoba berpengalaman jadi playboy, selebihnya adalah menarik perhatian lawan jenis untuk kebanggaan diri sendiri.
Inikah Rasanya Cinta? kurang memakai landasan kuat. Tujuannya bukan menjadi tontonan yang membawa kesan tidak terlupakan ketika kita pulang, dan tidak menjadi obrolan menarik selama perjalanan sampai ke rumah.
Inikah Rasanya Cinta? hanya mempertontonkan kegembiraan sesaat, atau sebaliknya mengundang kesedihan anak-anak muda pada persoalan cinta, dan miskin pendalaman makna asmara yang suci.
Sebagai film yang ditujukan bagi remaja, film ini sama sekali tidak memberikan jalan keluar yang baik ketika seorang gadis ”jatuh cinta” kepada aktor pujaannya, Ryan (Fedi Nuril).
Gejolak perasaan Nadya tidak menjelaskan apa-apa, rasanya film ini menguatkan dugaan sembarang tentang gadis-gadis di mana saja yang bersikap ”murah” terhadap selebriti ganteng.
Selain itu, kisah percintaan remaja yang diketengahkan kenapa tidak memilih gambaran ringan tentang kebiasaan umum anak muda (siapa saja) yang ”memaksa” membuka peluang eksperimentasi percintaan kapan saja dan di mana saja. Ketimbang mencoba menitipkan konflik rumit tentang perasaan cinta seseorang kepada sahabatnya.
Padahal itu memang persoalan biasa, bukan problem akbar yang memikat. Sebab garapan skenarionya tidak mengangkat akar permasalahan secara tuntas. Kenapa Jason bisa jatuh cinta kepada sahabatnya, Nadya? Apakah cuma karena Nadya cantik? Mungkin karena Nadya pintar? Gak mungkin kalau cinta Jason datang karena godaan centil si gadis. Kalau saja ada penjelasan, mungkin saja malah bisa seru dan sedap dinikmat

Nah kalian² semuakan dah nonton nich…gimana ceritanya . . . Bagus, Jelek, atau Standart² aza sama
ky disinetronnya ??? ”






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M