www.anitablog.tk

27.04.07

Pilih Mana…???

Filed under: Poems

Kasihku disana

Kasih nun jauh disana…Kau begitu sabar dan tabah,Berdoa..walau kau arungi badai dan samudera, Tanpa mengenal lelah dan derita,Walau jiwa terasa hampa,Bila rindu datang menderu,Seuntai asamarapun berpadu,Menyingkap tabir cinta,Bertaut jalinan asmara,Dalam hati ada jiwa…Dalam jiwa ada rasa….Dan kini dua hati telah bersumpah,

Untuk mengayuh bahtera cinta…
Untuk merajut jalinan asmara Cinta… kita takkan sirna,Hihati ini telah terukir janji setia,Walau badai manghadang kita,Takkan mampu pisahkan kita berdua,Kujaga engkau dalam doa,Kuharap engkau bahagia disana,Bersama hati sebuah cinta kita,Walau kita tidak bersama…“amieeeeeeeen bgt dech”

Tak Apa Apa
Bila hadirmu saat ini bukan karena aq…

Tak apa-apa…
Berarti semua t’lah terjawab
Bahwa aq tak ada artinya apa-apa di hidupmu
Bila memang tak ada aq di bagian masa depanmu…

Tak apa-apa…
Berarti suatu saat harus siap kehilanganmu
Entah kapan waktu itu tiba??
Lelah ku jalani hubungan ini!!

Namun ku ingin kau tau…
Aq takkan pernah lelah mencintaimu…
Aq takkan pernah bosan mendengar semua keluh kesahmu…
Aq takkan pernah letih berdoa di setiap sujudku hanya untukmu…
Aq takkan menyesali pertemuan denganmu

Dan takkan menyesali mencintaimu…
Terima kasih t’lah kau beri aq cinta…
Terima kasih kau telah sentuh hatiku…

Dan membuatku terbangun dari masa laluku…
Aq memang tak bisa melupakannya
Tapi kau harus tau…
Aq t’lah lupakan cinta & asaku padanya!!!

racikan masalalu
aku datang diantara malam
sebab malam kali ini adalah derita panjang
yang akan menelusuri hidupku yang kelam

saat ketemui sosok dirimu
yang terayun langkah nan gemulai
duduk bersandingan disebuah pelaminan

malam pun kembali kutempuh
menjadi serba hitam dan semu
sebab racikan kenangan masalalu
harus kukubur jauh jauh
juga bersama waktu demi waktu
tentang dirimu atau diriku
selamat menempuh hidup baru.
MENYAKITKAN……………
“ENAK MANA YACH? DI TINGGAL KAWIN/DI TINGGAL MATI?”

21.04.07

Sejarah Ibu Kartini

Filed under: Info

Kartini lahir 21 April 1879 atau 28 Rabiulakhir 1808 di Desa Mayong, Jepara. Tak jelas siapa yang memberikan nama itu padanya. Tapi Pramoedya dalam Panggil Aku Kartini Saja lebih yakin, karena perempuan, ibunyalah yang memberikan nama.

Waktu itu ayah Kartini masih menjabat Asisten Wedana onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara, dan memiliki rumah yang luas. Tapi Kartini justru tidak lahir di rumah yang luas ini. Sebagai anak dari “selir”, Kartini lahir di rumah kecil, berada di bagian belakang rumah Asisten Wedana itu.

Sejarah juga tak mencatat masa kecil Kartini. Tapi yang agak bisa dipastikan, dia besar di bawah pengasuhan ibunya, di rumah kecil itu. Kartini sendiri melukiskan masa kecilnya itu dengan nada pedih. Suratnya kepada Ny HG de Booij-Boissevain menunjukkan diskriminasi yang dia dapat ketika bayi. Ibunya harus bersaing dengan istri utama ayahnya, yang memang masih keturunan Ratu Madura. Sejak bayi dia sudah merasakan kehidupan yang beda antara gedung utama dan rumah kecilnya.

Sahabat Kartini Ny van Zeggelen dalam romannya Kartini melukiskan, setelah lahir Kartini diasuh emban, Rami. Sedang ibu Kartini, seperti kebanyakan selir lain, pergi dari rumah itu sesudah melahirkan. Ini dibuktikan dengan asumsi, Kartini tak memiliki saudara sekandung. Padahal, setahun setelah kelahirannya, saudara Kartini ada 6 orang, dari ibu-ibu yang berbeda. Tapi dari surat-surat Kartini kepada Stella, dan status ibu utama yang “cukup membencinya”, Pramoedya percaya selain Rami, Kartini masih tetap diasuh ibunya.

Kartini kemudian sekolah, tak jelas di usia berapa. Yang dapat dicatat dari masa sekolah ini adalah perasaan Kartini yang marah karena diskriminasi guru-gurunya, lewat surat kepada Estelle Zeehandellar,

“Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menentang kami. Aduhai! Betapa banyaknya dukacita dahulu semasa kanak-kanak di sekolah; para guru dan banyak di antara kawan mengambil sikap permusuhan kepada kami…”

Ibu Kita Kartini
Ciptaan: W.R. Supratman

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Ibu kita Kartini, Putri jauhari
Putri yang berjasa, se-Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri yang suci
Putri Yang merdeka, cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Ibu kita Kartini, pendekar putri.
Pendekar kaum ibu, se-indonesia.
Ibu kita Kartini, penyuluh budi,
Penyuluh Bangsanya, kar ‘na cintanya.
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

06.04.07

Manusia Biasa

Filed under: Poems

Bayangkan bila kau tak kasat mata…
tak dapat disentuh walau kau bisa menyentuhnya…
tak dapat dirasa walau seluruh ragamu disana…
dapatkah kau menjaganya yanpa harus mengurungnya…

Bayangkan bila kau sebagai yang tak kasat mata
abu yang beterbangan tak dapat melukaimu
panasnya surya bahkan membuatmu terbuai dan berlagu
dan kau dapat menyusupi rongga jiwa yang kosong

Aku manusia biasa…
tak punya mukjizat
tapi ku punya hati yang utlus yang tak tampak olehmu

Aku manusia biasa…
sabarku terbatas
kini cinta dihatiku semua hanya untukmu






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M